Sejarah Tari Jaranan memiliki beberapa versi cerita. Salah satu legenda yang berkembang di masyarakat soal pernikahan Klana Sewandono dengan Dewi Songgo Langit, putri Raja Airlangga dari Kediri yang sangat cantik. Diceritakan banyak sekali yang melamar saat itu sampai akhirnya diadakan sayembara.

Para pelamar Dewi Songgo Langit semuanya sakti dan memiliki kekuatan yang tinggi. Sebenarnya Dewi Songgo Langit tidak mau menikah dan ingin jadi petapa saja. Namun Prabu Airlangga memaksanya menikah. Akhirnya dia mau menikah dengan satu permintaan. Barang siapa yang bisa membuat kesenian yang belum ada di Pulau Jawa dia mau menjadi suaminya.

Tari Jaranan ini merupakan warisan nenek moyang yang masih tetap ada dan berkembang hingga sekarang, untuk mengenang sayembara Dewi Songgo Langit. Pengamat seni dari Pare, Kediri, Harianto, menuturkan seni Jaranan muncul sejak abad ke-10 Hijriah, tepatnya pada tahun 1041, bersamaan dengan kerajaan Kahuripan dibagi menjadi 2, yaitu bagian timur Kerajaan Jenggala dengan ibukota Kahuripan dan sebelah Barat Kerajaan Panjalu atau Kediri dengan Ibukota Dhahapura.

Sejarah kelam memang pernah menimpa kesenian jaranan. Dilarang oleh pemerintah orde baru setelah pemberontakan PKI karena adanya isu bahwa para seniman pelaku Jaranan terlibat dalam organisasi internal PKI. Banyak diantara seniman jaranan yang ditangkap dan menjadi tahanan politik hingga sebagian dibuang ke pulau Buru.

Adapaun gerakan penari jaranan juga semakin bervariasi. Pakem yang ditetapkan oleh jaranan Wijaya Putra sebagai perintis adalah 24 gerakan, namun saat ini ada yang menggunakan 14 gerakan pakem Joyoboyo. Namun paling sedikit gerakannya adalah pakem gerakan Ronggolawe yang hanya 5-6 gerakan saja.

Ada pula Jaranan Buto yang merupakan variasi kesenian jaranan dari daerah Banyuwangi. Menikmati tontonan ini memang mengasyikkan, membuat kita bisa ikut bergoyang-goyang melihat gerakan penari yang lincah dan memutar-mutar kuda kepang tersebut. Dengan alunan musik yang menarik dan aksesori pakaian penari yang indah, ditambah dengan pecut yang sering dihentakkan dan menimbulkan bunyi-bunyian.

Samsul, seorang seniman tari, berkat komitmennya dalam menggeluti dunia seni, akhirnya berkesempatan untuk mementaskan pertujukan tari di ajang kelas dunia Milan Expo 2015 mewakili budaya Banyuwangi.

Kesenian tari Jaranan ini masih tetap hidup dan dilestarikan di beberapa daerah di Jawa Timur. Salah satunya adalah kabupaten Kediri yang menjadikan Tari Jaranan ikon kebanggan mereka. Tarian ini masih dilestarikan dan dikembangkan oleh beberapa sanggar seni yang ada di sana. Setiap sanggar memiliki ciri khas dan pakem tersendiri dalam penampilannya, hal ini lah yang menjadikan Tari Jaranan kaya akan nilai seni.

Comments

comments